Perangkat Pembelajaran

Pembelajaran berasal dari kata belajar yang secara bahasa berarti suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu. Menurut John Amos Comenius (1592-1670) dalam Sutiman dan Rohaeti (2007:3) prinsip pembelajaran mencakup beberapa hal, antara lain :

  1. Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa.
  2. Sesuatu yang diajarkan harus mempunyai aplikasi praktis dalam kehidupan dan mengandung nilai bagi siswa.
  3. Bahan pembelajaran disusun secara induktif, mulai dari yang mudah meningkat ke arah yang lebih sulit.
  4. Serangkaian buku teks dengan ilustrasi dibuat sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Menurut Driscoll (2000) dalam Slavin (2008:175), pembelajaran didefinisikan sebagai perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Sebenarnya manusia pun telah mengalami banyak pembelajaran dalam kehidupan bahkan dari sejak lahir. Pembelajaran terjadi dengan banyak cara. Kadang-kadang pembelajaran bersifat intensional. Misalnya saja ketika peserta didik memperoleh informasi ataupun materi yang disajikan guru di ruang kelas atau ketika mereka membaca tulisan atau menemukan gambar dalam internet.

Teori-teori tentang pembelajaran tidak menjelaskan bagaimana suatu proses belajar terjadi tetapi lebih merupakan penerapan prinsip teori belajar dalam usaha mencapai tujuan belajar. Penekanan utama pada teori pembelajaran yaitu bahwa belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individual, yang merubah stimulasi yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang.

Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pebelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh pengajar atau fasilitator atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi, baik simbol verbal maupun simbol non verbal atau visual.

Tugas guru salah satunya adalah menyediakan suasana yang menyenangkan selama proses belajar. Guru seolah harus mencari cara untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan mengesampingkan ancaman selama proses pembelajaran. Salah satu cara untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menyenangkan pula.

Media berasal dari bahasa latin, yaitu “medium”yang artinya perantara, yang bermakna apa saja yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi ke penerima informasi (Widodo dan Jasmadi:2008:28). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu peserta didik dalam memberikan pengalaman yang bermakna bagi mereka. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkrit. Hal ini sesuai dengan pendapat Jerome S Bruner dalam Sugihartono (2007:112) bahwa peserta didik belajar melalui tiga tahapan yaitu:

  1. Tahap enaktif (0-3 tahun) yaitu pemahaman anak dicapai melalui eksplorasi dirinya sendiri dan manipulasi fisik motorik melalui pengalaman sendiri,
  2. Tahap ikonik (3-8 tahun) yaitu anak menyadari sesuatu ada secara mandiri melalui gambar yang konkret bukan yang abstrak,
  3. Tahap simbolik (>8 tahun) yaitu anak sudah memahami simbol-simbol dan konsep seperti bahasa dan angka sebagai representasi simbol.

Prinsip tahapan pembelajaran dari Jerome S Bruner ini dapat diterapkan dalam “Kerucut Pengalaman” atau “cone of experience” yang dikemukakan Edgar Dale dalam Widodo dan Jasmadi (2008:31). Kerucut Dale menunjukkan tingkat pengalaman yang diterima peserta didik, dimana media berbentuk teks mempunyai tingkat abstrak yang tinggi karena peserta didik harus memahami dan mengerti tentang materi yang diberikan dalam bentuk teks tersebut. Tingkat abstrak semakin menurun dengan peningkatan pengalaman yang diterima peserta didik, misalnya kalau media pembelajaran hanya berbentuk teks tidak mampu memberikan pengalaman yang berlebih dari panca indera selain mata, tetapi dengan media yang lebih kompleks misalnya melakukan percobaan akan memberikan pengalaman yang lebih banyak karena banyak panca indera yang terlibat. Semakin banyak anggota tubuh yang terlibat dalam proses pembelajaran, maka tingkat pemahaman peserta didik akan semakin banyak.

Media pembelajaran penting dalam proses belajar mengajar karena media akan dapat digunakan untuk mendukung aktivitas dalam meningkatkan perhatian peserta didik pada isi yang sedang diberikan sehingga pengalaman/ kesan/ memori akan lebih banyak. Media membantu peserta didik mengingat kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya. Media dapat mendukung pembelajaran melalui elaborasi visual.

Media yang biasanya digunakan dalam pembelajaran dibedakan menjadi beberapa bagian, antara lain :

Media Visual

Pesan dituangkan ke dalam simbol-simbol visual. Media visual berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, menggambarkan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan jika tidak divisualkan. Yang termasuk dalam media visual

  • Gambar atau foto, kelebihannya yaitu mampu  memberikan tampilan yang sifatnya konkret, gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, gambar atau foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita dan dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja.
  • Sketsa, berupa gambar dengan kasar yang menyajikan bagian-bagian pokoknya saja tanpa detail.
  • Diagram, sebagai penyederhana sesuatu yang kompleks yang biasanya berupa petunjuk-petunjuk secara simbolik dan singkat.
  • Bagan/chart, untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit jika hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual.
  • Grafik, untuk menggambarkan data kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas.
  • Kartun, gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan suatu pesan secara cepat dan ringkas atau suatu sikap terhadap orang, situasi atau kejadian-kejadian tertentu.
  • Poster,  tidak saja penting untuk menyampaikan pesan atau kesan tertentu akan tetapi mampu pula untuk mempengaruhi dan memotivasi tingkah laku orang yang melihatnya.
  • Peta dan globe, untuk menyajikan data-data yang berhubungan dengan lokasi suatu daerah baik berupa keadaan alam, hasil bumi, hasil tambang atau lain sebagainya.
  • Papan planel, berisi gambar atau huruf yang dapat ditempel dan dilepas sesuai kebutuhan, gambar atau huruf tadi dapat melekat pada kain planel karena di bagian bawahnya dilapisi kertas amplas.
  • Papan buletin berupa papan yang langsung ditempeli gambar atau tulisan.

Media Audio

Media audio adalah jenis media yang berhubungan dengan indera pendengaran. Beberapa jenis media yang dapat digolongkan ke dalam media audio adalah sebagai berikut:

  •  Radio, dapat merangsang partisipasi aktif dari pendengar.
  • Alat perekam magnetik atau tape recorder.

Media Proyeksi Diam

Beberapa media yang termasuk kedalam media proyeksi diam diantaranya adalah:

  • Film bingkai.
  • Film rangkai.
  • OHT (Over Head Transparancy) adalah media visual proyeksi, dibuat di atas bahan transparan.
  • Opaque proyektor, proyektor yang tak tembus pandang, karena yang diproyeksikan bukan bahan transparan tetapi bahan-bahan yang tidak tembus pandang (opaque).
  • Mikrofis lembaran film transparan.

Media Proyeksi Gerak dan Audio Visual.

Beberapa jenis media yang masuk dalam kelompok ini adalah:

  • Film gerak.
  • Program TV.
  • Video.
  • Multimedia, dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami suatu konsep abstrak dengan lebih mudah, selain itu juga bisa menggunakan media komputer.
  • Benda yang ada di sekitar, baik benda asli maupun benda tiruan atau miniatur.

Secara umum, media pembelajaran memberikan banyak manfaat dalam proses pembelajaran sehingga materi mudah tersampaikan kepada peserta didik. Beberapa manfaat yang diperoleh dengan menggunakan media dalam proses pembelajaran antara lain :

  1. Memperjelas penyajian suatu pesan sehingga tidak terlalu verbalistis.
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
  3. Dapat mengatasi sikap pasif peserta didik sehingga mampu menimbulkan semangat dan motivasi belajar.
  4. Memungkinkan peserta didik belajar sendiri menurut minat dan kemampuannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s