Melewati selangkah yang berarti…

Januari 2011….

Semuanya diawali….

Bertaruh waktu, kemampuan, segalanya….

Semangat membara agar segera usai….

Tidur pun kurang….

Kekuatan ragapun menurun…

Hasil pun belum juga menampakkan gairah….

Kesabaran….

Meng-qowi-kan raga jadi pilihan….

Pasang surut terjadi…

Membimbangkan hati pada hasil….

Alloh…. tempat bercurah rasa….

Membarakan semangat yang pernah hilang….

Beberapa purnama telah terlewati….

tak juga usai…

semburat keemasan mulai menampakkan dirinya…

perlahan-lahan….

perlahan-lahan….

perlahan-lahan….

perlahan-lahan….

Kemerahan mulai muncul….

menampakkan senyuman dibibir….

kini…

Juli 2011….

hasil mulai nyata…

tinggal selangkah lagi hingga akhir….

Ya Alloh… Segala puji hanya bagi-Mu…

takkan pernah ku bisa mendapatkan ini….

tanpa campur tangan-Mu..

tanpa kekuatan dari-Mu…

tanpa hidayah-Mu…

 

Modul sebagai Media Pembelajaran

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan yang dikemukakan Suryobroto dalam Made Wena (2009:231) pengertian modul adalah satu unit program belajar mengajar terkecil, yang secara rinci menggariskan:

  1. Tujuan instruksional yang akan dicapai.
  2. Topik yang akan dijadikan pangkal proses belajar mengajar.
  3. Pokok-pokok yang akan dipelajari.
  4. Kedudukan dan fungsi modul dalam kesatuan program yang lebih luas.
  5. Peranan guru dalam proses belajar-mengajar.
  6. Alat dan sumber belajar yang dipergunakan.
  7. Kegiatan belajar yang harus dilakukan dan dihayati siswa secara berurutan.
  8. Lembaran kerja yang harus diisi oleh siswa.
  9. Program evaluasi yang akan dilaksanakan.

Modul sebagai sarana kegiatan belajar mengajar memiliki beberapa tujuan dalam penyusunannya. Secara lengkap tujuan penyusunan modul adalah sebagai berikut:

  1. Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal.
  2. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik peserta belajar maupun guru/ instruktur.
  3. Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti untuk meningkatkan motivasi dan gairah belajar; mengembangkan kemampuan dalam berin- teraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya yang memungkinkan peserta didik atau pebelajar belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya.
  4. Memungkinkan peserta didik atau pebelajar dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya. (Depdiknas, 2008:5)

Modul yang dihasilkan agar mampu meningkatkan motivasi penggunanya, maka modul harus mencakup beberapa karakteristik tertentu. Karakteristik untuk pengembangan modul berdasarkan Depdiknas (2008:3) antara lain :

1.  Self Instructional, yaitu melalui modul tersebut seseorang atau peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instructional, maka dalam modul harus;

1)      berisi tujuan yang dirumuskan dengan jelas;

2)      berisi materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit kecil/spesifik sehingga memudahkan belajar secara tuntas;

3)      menyediakan contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pema- paran materi pembelajaran;

4)      menampilkan soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang       memungkinkan pengguna memberikan respon dan mengukur tingkat penguasaannya;

5)      kontekstual yaitu materi-materi yang disajikan terkait dengan suasana atau konteks tugas dan lingkungan penggunanya;

6)      menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif;

7)      terdapat rangkuman materi pembelajaran;

8)      terdapat instrumen penilaian yang memungkinkan pengguna modul melakukan ‘self assessment’;

9)      terdapat instrumen yang dapat digunakan penggunanya mengukur atau mengevaluasi tingkat penguasaan materi;

10)  terdapat umpan balik atas penilaian, sehingga penggunanya mengetahui tingkat penguasaan materi; dan

11)  tersedia informasi tentang rujukan/pengayaan/referensi yang mendukung materi pembelajaran dimaksud.

2.   Self Contained, yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan pembelajar mempelajari materi pembelajaran yang tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu unit kompetensi harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan kompetensi yang harus dikuasai.

3.  Stand Alone (berdiri sendiri), yaitu modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media pembelajaran lain. Dengan menggunakan modul, pebelajar tidak tergantung dan harus menggunakan media yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika masih menggunakan dan bergantung pada media lain selain modul yang digunakan, maka media tersebut tidak dikategorikan sebagai media yang berdiri sendiri.

4.  Adaptive, modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel digunakan. Dengan memperhatikan percepatan perkembangan ilmu dan teknologi pengembangan modul multimedia hendaknya tetap “up to date”. Modul yang adaptif adalah jika isi materi pembelajaran dapat digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu.

5.  User Friendly, modul hendaknya bersahabat dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta menggunakan istilah yang umum digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.

Pengadaan modul dapat dilakukan sendiri oleh guru atau pengajar. Menurut Suryosubroto (1983) dalam Made Wena (2009:233-234), suatu modul digunakan di sekolah disusun dengan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1.  Menyusun kerangka paket belajar

1)         Menetapkan/menggariskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dengan mempelajari modul.

2)         Menyusun soal-soal penilaian untuk mengukur sejauh mana tujuan instruksional khusus bisa dicapai

3)         Mengidentifikasi pokok-pokok materi pelajaran yang sesuai dengan setiap tujuan instruksional khusus

4)         Mengatur dan menyusun pokok-pokok materi tersebut di dalam urutan yang logis dan fungsional

5)         Menyusun langkah-langkah kegiatan belajar peserta didik

6)         Memeriksa sejauh mana langkah-langkah kegiatan belajar yang telah diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

7)         Mengidentifikasi alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan modul tersebut.

2.  Menyusun/menulis program secara terperinci meliputi pembuatan semua unsur dalam komponen modul, yaitu:

1)         Petunjuk penggunaan modul

Berisi petunjuk-penjuk penggunaan modul agar pembelajaran dapat diselenggarakan secara efisien, penjelasan tentang macam-macam kegiatan yang harus dilakukan di kelas, waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul, alat pelajaran, dan petunjuk penilaian.

2)         Lembar Kegiatan Peserta Didik

Lembar Kegiatan Peserta Didik berisi materi pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik dan kegiatan yang harus dilakukan peserta didik.

3)         Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ini digunakan untuk mengerjakan/menjawab soal, tugas, atau masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik.

4)         Lembar jawab/kunci

Komponen ini berfungsi untuk mengevaluasi sendiri pekerjaan peserta didik, sehingga akan terjadi umpan balik dengan cepat terhadap pekerjaannya.

5)         Lembar evaluasi/penilaian

Lembar evaluasi berfungsi sebagai alat koreksi sendiri terhadap penilaian yang dilakukan.

Modul pembelajaran yang dihasilkan agar mampu memerankan fungsi dan perannya dalam pembelajaran yang efektif, modul perlu dirancang dan dikembangkan dengan memperhatikan beberapa elemen seperti konsisten, format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf, dan penggunaan spasi kosong. (Azhar Arsyad, 1997:87-90).

1. Konsistensi

1)      Gunakan bentuk dan huruf secara konsisten dari halaman ke halaman. Usahakan agar tidak menggabungkan beberapa cetakan dengan bentuk dan huruf yang terlalu bervariasai.

2)         Gunakan jarak spasi konsisten. Jarak antara judul dengan baris pertama, antara judul dengan teks utama. Jarak baris atau spasi yang tidak sama sering dianggap buruk, tidak rapi.

3)         Gunakan tata letak dan pengetikan yang konsisten, baik pola pengetikan maupun margin/batas-batas pengetikan.

2.  Format

1)      Gunakan format kolom (tunggal atau multi) yang proporsional. Penggunaan kolom tunggal atau multi harus sesuai dengan bentuk dan ukuran kertas yang digunakan. Jika menggunakan kolom multi, hendaknya jarak dan perbandingan antar kolom secara proporsional.

2)      Gunakan format kertas (vertikal/horisontal) yang tepat. Penggunaan format kertas secara vertikal atau horisontal harus memperhatikan tata letak dan format pengetikan.

3)      Gunakan tanda-tanda (icon) yang mudah ditangkap yang bertujuan untuk menekankan pada hal-hal yang dianggap penting atau khusus. Tanda dapat berupa gambar, cetak tebal, cetak miring atau lainnya.

3.  Organisasi

1)      Tampilan peta/bagian yang menggambarkan cakupan materi yang akan dibahas dalam modul.

2)      Organisasikan isi materi pembelajaran dengan urutan dan susunan yang sistematis, sehingga memudahkan peserta didik memahami pembelajaran.

3)      Susun dan tempatkan naskah, gambar, dan ilustarsi sedemikian rupa sehingga informasi mudah dimengerti oleh peserta didik.

4)      Organisasikan antar bab, antar unit, dan antar paragraf dengan susunan dan alur yang memudahkan peserta didik memahaminya.

5)      Organisasikan antara judul, sub judul, dan uraian yang mudah diikuti oleh peserta didik.

4.  Daya tarik

Daya tarik modul dapat ditempatkan di beberapa bagian seperti:

1)      Bagian sampul depan dengan mengkombinasikan warna, gambar/ilustrasi, bentuk dan ukuran huruf yang sesuai.

2)      Bagian isi modul dengan menempatkan rangsangan-rangsangan berupa gambar/ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring, garis bawah atau warna.

3)      Tugas dan latihan yang dikemas sedemikian rupa.

5.  Bentuk dan ukuran huruf

1)      Gunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca sesuai dengan karakteristik umum peserta didik.

2)      Gunakan perbandingan huruf yang proporsional antara judul, sub judul, dan isi naskah.

3)      Hindari penggunaan huruf kapital untuk seluruh teks, karena dapat membuat proses membaca menjadi sulit.

6.  Ruang/spasi kosong

Gunakan spasi atau ruang kosong tanpa naskah atau gambar untuk menambah kontras penampilan modul. Spasi kosong dapat berfungsi untuk menambahkan catatan penting dan memberikan kesempatan jeda kepada peserta didik. Gunakan dan tempatkan spasi kosong tersebut secara proporsional. Penempatan ruang kosong dapat dilakukan di beberapa tempat seperti ruangan sekitar judul bab dan subbab.

1)      Batas tepi (margin), yaitu batas tepi yang luas memaksa perhatian peserta didik untuk masuk ke tengah-tengah halaman.

2)   Spasi antar kolom, semakin lebar kolomnya, semakin luas spasi diantaranya.

3)   Pergantian antar paragraf dan dimulai dengan huruf kapital.

4)   Pergantian antar bab atau bagian.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam modul terdapat beberapa komponen yaitu petunjuk penggunaan modul, kegiatan pembelajaran, lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja peserta didik, dan evaluasi. Fungsi dan peran modul tersebut perlu didukung aturan dalam penyusunan modul yang harus diperhatikan.

Pengajaran dengan menggunakan media modul banyak memberikan keuntungan, baik bagi guru mapun bagi peserta didik. Menurut Santyasa (2009:9) keuntungan yang diperoleh peserta didik adalah:

  1. Meningkatkan motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
  2. Setelah    dilakukan  evaluasi,  guru  dan  siswa  mengetahui  benar pada  modul  yang mana siswa telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
  3. Siswa mencapai hasil sesuai dengan kemampuannya.
  4. Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester.
  5. Pendidikan  lebih  berdaya  guna,  karena  bahan  pelajaran  disusun  menurut  jenjang akademik.

Melalui pengajaran modul, peserta didik memiliki tujuan yang jelas, sehingga kegiatan belajarnya menjadi lebih terarah. Peserta didik juga diberi kesempatan untuk menguasai materi pelajaran secara tuntas dengan mengulangi kegiatan belajarnya apabila mengalami kegagalan. Keberhasilan yang dicapai, disamping memberikan kepuasan pada diri peserta didik juga memberikan kepuasan bagi guru. Evaluasi setelah selesai mengajar dengan modul, memberi kesempatan pada guru untuk menilai keberhasilannya, dan peserta didik segera dapat mengetahui tingkat penguasaannya.

Guru memiliki banyak kesempatan untuk mengadakan kegiatan pengayaan dan terbebas dari kegiatan rutin yang berat. Guru juga terbebas dari kegiatan persiapan bahan pelajaran, karena sudah tersusun dalam bentuk modul. Keterbukaan guru dalam menerima saran-saran peserta didik akan memberikan makna yang lebih besar dari guru. Guru dapat memahami bagaimana peserta didik belajar sehingga meningkatkan profesionalitasnya sebagai guru.

Modul dapat digunakan  sebagai sumber belajar dan belajar mandiri, jika sebelumnya sudah melalui penilaian dari para pakar materi, media dan tim pengembang. Menurut Widodo dan Jasmadi (2008:71) menyatakan bahwa bahan ajar yang telah dikembangkan perlu dilakukan beberapa evaluasi dari beberapa sisi, yaitu bentuk fisik atau teknik bahan ajar (misalnya kualitas hasil produksi bahan ajar, keterbacaan huruf, kesalahan cetak), isi bahan ajar dari sisi kualitas, teknik penulisan bahan ajar (konsistensi huruf, bentuk dan ukuran, format dan lainnya). Evaluasi dilakukan salah satunya dengan menyebarkan kuisioner.

Berdasarkan penjelasan diatas maka sebuah modul yang telah selesai disusun perlu diadakan penilaian untuk mengetahui kualitas dari modul tersebut. Penilaian modul ini bertujuan untuk mengetahui apakah modul tersebut dapat digunakan sebagai sumber belajar dan belajar mandiri oleh peserta didik.

Perangkat Pembelajaran

Pembelajaran berasal dari kata belajar yang secara bahasa berarti suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu. Menurut John Amos Comenius (1592-1670) dalam Sutiman dan Rohaeti (2007:3) prinsip pembelajaran mencakup beberapa hal, antara lain :

  1. Materi pembelajaran harus disesuaikan dengan tahap perkembangan siswa.
  2. Sesuatu yang diajarkan harus mempunyai aplikasi praktis dalam kehidupan dan mengandung nilai bagi siswa.
  3. Bahan pembelajaran disusun secara induktif, mulai dari yang mudah meningkat ke arah yang lebih sulit.
  4. Serangkaian buku teks dengan ilustrasi dibuat sesuai dengan kebutuhan pembelajaran.

Menurut Driscoll (2000) dalam Slavin (2008:175), pembelajaran didefinisikan sebagai perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman. Sebenarnya manusia pun telah mengalami banyak pembelajaran dalam kehidupan bahkan dari sejak lahir. Pembelajaran terjadi dengan banyak cara. Kadang-kadang pembelajaran bersifat intensional. Misalnya saja ketika peserta didik memperoleh informasi ataupun materi yang disajikan guru di ruang kelas atau ketika mereka membaca tulisan atau menemukan gambar dalam internet.

Teori-teori tentang pembelajaran tidak menjelaskan bagaimana suatu proses belajar terjadi tetapi lebih merupakan penerapan prinsip teori belajar dalam usaha mencapai tujuan belajar. Penekanan utama pada teori pembelajaran yaitu bahwa belajar merupakan suatu kumpulan proses yang bersifat individual, yang merubah stimulasi yang datang dari lingkungan seseorang ke dalam sejumlah informasi yang selanjutnya dapat menyebabkan adanya hasil belajar dalam bentuk ingatan jangka panjang.

Pembelajaran adalah sebuah proses komunikasi antara pebelajar, pengajar dan bahan ajar. Komunikasi tidak akan berjalan tanpa bantuan sarana penyampai pesan atau media. Pesan yang akan dikomunikasikan adalah isi pembelajaran yang ada dalam kurikulum yang dituangkan oleh pengajar atau fasilitator atau sumber lain ke dalam simbol-simbol komunikasi, baik simbol verbal maupun simbol non verbal atau visual.

Tugas guru salah satunya adalah menyediakan suasana yang menyenangkan selama proses belajar. Guru seolah harus mencari cara untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan dan mengesampingkan ancaman selama proses pembelajaran. Salah satu cara untuk membuat pembelajaran menjadi menyenangkan adalah dengan menggunakan media pembelajaran yang menyenangkan pula.

Media berasal dari bahasa latin, yaitu “medium”yang artinya perantara, yang bermakna apa saja yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi ke penerima informasi (Widodo dan Jasmadi:2008:28). Media pembelajaran adalah sebuah alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu peserta didik dalam memberikan pengalaman yang bermakna bagi mereka. Penggunaan media dalam pembelajaran dapat mempermudah peserta didik dalam memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkrit. Hal ini sesuai dengan pendapat Jerome S Bruner dalam Sugihartono (2007:112) bahwa peserta didik belajar melalui tiga tahapan yaitu:

  1. Tahap enaktif (0-3 tahun) yaitu pemahaman anak dicapai melalui eksplorasi dirinya sendiri dan manipulasi fisik motorik melalui pengalaman sendiri,
  2. Tahap ikonik (3-8 tahun) yaitu anak menyadari sesuatu ada secara mandiri melalui gambar yang konkret bukan yang abstrak,
  3. Tahap simbolik (>8 tahun) yaitu anak sudah memahami simbol-simbol dan konsep seperti bahasa dan angka sebagai representasi simbol.

Prinsip tahapan pembelajaran dari Jerome S Bruner ini dapat diterapkan dalam “Kerucut Pengalaman” atau “cone of experience” yang dikemukakan Edgar Dale dalam Widodo dan Jasmadi (2008:31). Kerucut Dale menunjukkan tingkat pengalaman yang diterima peserta didik, dimana media berbentuk teks mempunyai tingkat abstrak yang tinggi karena peserta didik harus memahami dan mengerti tentang materi yang diberikan dalam bentuk teks tersebut. Tingkat abstrak semakin menurun dengan peningkatan pengalaman yang diterima peserta didik, misalnya kalau media pembelajaran hanya berbentuk teks tidak mampu memberikan pengalaman yang berlebih dari panca indera selain mata, tetapi dengan media yang lebih kompleks misalnya melakukan percobaan akan memberikan pengalaman yang lebih banyak karena banyak panca indera yang terlibat. Semakin banyak anggota tubuh yang terlibat dalam proses pembelajaran, maka tingkat pemahaman peserta didik akan semakin banyak.

Media pembelajaran penting dalam proses belajar mengajar karena media akan dapat digunakan untuk mendukung aktivitas dalam meningkatkan perhatian peserta didik pada isi yang sedang diberikan sehingga pengalaman/ kesan/ memori akan lebih banyak. Media membantu peserta didik mengingat kembali apa yang telah dipelajari sebelumnya. Media dapat mendukung pembelajaran melalui elaborasi visual.

Media yang biasanya digunakan dalam pembelajaran dibedakan menjadi beberapa bagian, antara lain :

Media Visual

Pesan dituangkan ke dalam simbol-simbol visual. Media visual berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, menggambarkan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan jika tidak divisualkan. Yang termasuk dalam media visual

  • Gambar atau foto, kelebihannya yaitu mampu  memberikan tampilan yang sifatnya konkret, gambar dapat mengatasi batasan ruang dan waktu, gambar atau foto dapat mengatasi keterbatasan pengamatan kita dan dapat memperjelas suatu masalah, dalam bidang apa saja dan untuk tingkat usia berapa saja.
  • Sketsa, berupa gambar dengan kasar yang menyajikan bagian-bagian pokoknya saja tanpa detail.
  • Diagram, sebagai penyederhana sesuatu yang kompleks yang biasanya berupa petunjuk-petunjuk secara simbolik dan singkat.
  • Bagan/chart, untuk menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit jika hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual.
  • Grafik, untuk menggambarkan data kuantitatif secara teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas.
  • Kartun, gambar interpretatif yang menggunakan simbol-simbol untuk menyampaikan suatu pesan secara cepat dan ringkas atau suatu sikap terhadap orang, situasi atau kejadian-kejadian tertentu.
  • Poster,  tidak saja penting untuk menyampaikan pesan atau kesan tertentu akan tetapi mampu pula untuk mempengaruhi dan memotivasi tingkah laku orang yang melihatnya.
  • Peta dan globe, untuk menyajikan data-data yang berhubungan dengan lokasi suatu daerah baik berupa keadaan alam, hasil bumi, hasil tambang atau lain sebagainya.
  • Papan planel, berisi gambar atau huruf yang dapat ditempel dan dilepas sesuai kebutuhan, gambar atau huruf tadi dapat melekat pada kain planel karena di bagian bawahnya dilapisi kertas amplas.
  • Papan buletin berupa papan yang langsung ditempeli gambar atau tulisan.

Media Audio

Media audio adalah jenis media yang berhubungan dengan indera pendengaran. Beberapa jenis media yang dapat digolongkan ke dalam media audio adalah sebagai berikut:

  •  Radio, dapat merangsang partisipasi aktif dari pendengar.
  • Alat perekam magnetik atau tape recorder.

Media Proyeksi Diam

Beberapa media yang termasuk kedalam media proyeksi diam diantaranya adalah:

  • Film bingkai.
  • Film rangkai.
  • OHT (Over Head Transparancy) adalah media visual proyeksi, dibuat di atas bahan transparan.
  • Opaque proyektor, proyektor yang tak tembus pandang, karena yang diproyeksikan bukan bahan transparan tetapi bahan-bahan yang tidak tembus pandang (opaque).
  • Mikrofis lembaran film transparan.

Media Proyeksi Gerak dan Audio Visual.

Beberapa jenis media yang masuk dalam kelompok ini adalah:

  • Film gerak.
  • Program TV.
  • Video.
  • Multimedia, dapat meningkatkan kemampuan peserta didik dalam memahami suatu konsep abstrak dengan lebih mudah, selain itu juga bisa menggunakan media komputer.
  • Benda yang ada di sekitar, baik benda asli maupun benda tiruan atau miniatur.

Secara umum, media pembelajaran memberikan banyak manfaat dalam proses pembelajaran sehingga materi mudah tersampaikan kepada peserta didik. Beberapa manfaat yang diperoleh dengan menggunakan media dalam proses pembelajaran antara lain :

  1. Memperjelas penyajian suatu pesan sehingga tidak terlalu verbalistis.
  2. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.
  3. Dapat mengatasi sikap pasif peserta didik sehingga mampu menimbulkan semangat dan motivasi belajar.
  4. Memungkinkan peserta didik belajar sendiri menurut minat dan kemampuannya.

Perlunya Merintis Modul IPA Terpadu

IPA adalah suatu keilmuan yang mempelajari tentang benda dan gejala kebendaan. Menurut Sund (1984) dalam Mariana dan Praginda (2009:17) IPA sebagai tubuh dari pengetahuan (body of knowledge) yang dibentuk melalui proses inkuiri secara terus menerus. IPA merupakan suatu upaya manusia yang meliputi operasi keterampilan dan strategi memanipulasi dan menghitung, keingintahuan, keteguhan hati, ketekunan yang dilakukan oleh individu untuk menyingkap rahasia alam semesta.

Menurut Mariana dan Praginda (2009:21) IPA memiliki sebuah metode yang dikenal dengan metode ilmiah, secara bertahap meliputi mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, merumuskan hipotesis, menguji hipotesis dan menarik kesimpulan. Proses pembelajaran IPA selama ini masih banyak menyuruh siswa untuk menghafal berbagai konsep tanpa disertai pemahaman. Proses pembelajaran minim dengan kerja ilmiah dan lebih menitikberatkan kemampuan siswa dalam mengerjakan soal-soal yang menyebabkan siswa hanya menonjol pada sisi kognitif saja tanpa disertai kemampuan psikomotor dan afektif.

Menurut kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), pelajaran IPA diberikan secara terpadu, karena bidang biologi, fisika dan kimia terdapat keterkaitan konsep yang jika dipelajari secara terpadu akan menghasilkan konsep yang utuh. Tetapi, dalam pelaksanaan dilapangan masih terpisah-pisah antara fisika, biologi, dan kimia. Hal ini dikarenakan ketersediaan buku teks guru/siswa yang belum terintegrasi, sehingga proses pembelajarannya masih berjalan sendiri-sendiri dari ketiga ilmu dasar tersebut. Selain itu, terbatasnya guru IPA yang mampu mengintegrasikan  biologi, fisika, dan kimia menjadi IPA terpadu.

Siswa selama ini masih menggunakan buku teks yang belum terpadu dalam proses pembelajaran IPA. Untuk melakukan revisi total pada buku teks lama menjadi buku teks IPA terpadu memerlukan waktu yang lama, karena harus menganalisis satu per satu standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD) IPA SMP terlebih dahulu.  Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menyediakan bahan ajar adalah menyusun suplemen materi berupa modul IPA terpadu. Dari beberapa modul dapat digabung menjadi sebuah buku teks IPA terpadu. Modul berfungsi sebagai alat untuk menyampaikan pesan pembelajaran IPA yang terpadu. Modul merupakan suplemen materi yang ditulis dengan bertujuan agar siswa dapat lebih memahami konsep-konsep IPA tanpa atau dengan bimbingan guru IPA.

Metode ilmiah dalam proses penemuan konsep IPA merupakan bagian dari nilai kehidupan. Sehingga pembelajaran IPA sangat cocok untuk menanamkan karakter yang baik pada siswa. Karakter yang dapat ditanamkan pada siswa melalui metode ilmiah antara lain jujur, mandiri, tanggung jawab, toleransi, demokrasi, rasa ingin tahu, kesabaran dan ketelitian. Menyadari tentang pentingnya pendidikan IPA terpadu dalam membangun karakter siswa melalui kemampuan kerja ilmiah, maka pembelajaran IPA terpadu harus dititik beratkan pada proses melatih menemukan konsep melalui kerja ilmiah. Sehingga perlu untuk dilakukan rintisan menyusun modul IPA terpadu yang didalamnya memuat kerja ilmiah untuk membangun karakter siswa.

Pemaduan Konsep Dalam Pembelajaran IPA

Salah satu kunci pembelajaran terpadu  yang terdiri atas beberapa bidang kajian adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan peserta didik mendapat pengalaman belajar yang dapat menghubungkaitkan konsep-konsep dari berbagai bidang kajian. Pengertian terpadu di sini mengandung makna menghubungkan IPA  dengan berbagai bidang kajian (Carin 1997;236). Lintas bidang  kajian dalam IPA  adalah mengkoordinasikan berbagai disiplin ilmu seperti makhluk hidup dan proses kehidupan, energi dan perubahannya, materi dan sifatnya, geologi, dan astronomi. Sebenarnya IPA  dapat juga dipadukan dengan bidang kajian lain  di luar bidang kajian IPA  dan hal ini lebih sesuai untuk jenjang pendidikan Sekolah Dasar. Mengingat pembahasan materi IPA pada tingkat lebih tinggi semakin luas dan mendalam, maka pada jenjang pendidikan SMP/MTs dan SMA/MA, akan lebih baik bila keterpaduan dibatasi pada bidang kajian yang termasuk bidang kajian IPA saja. Hal ini dimaksudkan agar tidak terlalu banyak guru yang terlibat, yang akan membuka peluang timbulnya kesulitan dalam pembelajaran dan penilaian,
mengingat semakin tinggi jenjang pendidikan, maka semakin dalam dan luas pula pemahaman konsep yang harus diserap oleh peserta didik.

Pembelajaran terpadu diawali dengan penentuan TEMA, karena penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa aspek yaitu:

  • peserta didik yang bekerja sama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, berdisiplin, dan mandiri;
  • peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivas dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya;
  • peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka ‘mendengar’, ‘berbicara’, ‘membaca’, ‘menulis’ dan ‘melakukan’ kegiatan menyelidiki masalah yang sedang dipelajarinya;
  • memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik;
  • belajar akan lebih baik bila peserta didik terlibat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi, dan berinteraksi dengan teman, guru, dan dunia nyata.

Oleh karena itu, jika guru hendak melakukan pembelajaran terpadu dalam  IPA, sebaiknya memilih tema yang menghubungkaitkan antara IPA–lingkungan- teknologi-masyarakat.

Apa Kelebihan IPA Terpadu??

Kelebihan  yang  dapat  diambil  melalui  pelaksanaan  pembelajaran terpadu antara lain sebagai berikut.

  • Dengan    menggabungkan    berbagai    bidang    kajian    akan    terjadi penghematan  waktu,  misalnya jika mengambil bidang kajian Energi  dan perubahannya,  Materi  dan  sifatnya,  dan  Makhluk  hidup  dan  proses kehidupan  dapat  dibelajarkan  sekaligus. Tumpang  tindih  materi  juga dapat dikurangi bahkan dihilangkan.
  • Peserta  didik  dapat  melihat  hubungan  yang  bermakna  misalnya antarkonsep Energi  dan  perubahannya,  Materi  dan  sifatnya,  dan  Makhluk  hidup  dan proses kehidupan.
  • Meningkatkan  taraf  kecakapan  berpikir  peserta  didik,  karena  peserta didik dihadapkan pada gagasan atau pemikiran yang lebih luas dan lebih dalam ketika menghadapi situasi pembelajaran.
  • Pembelajaran  terpadu  menyajikan penerapan/aplikasi  tentang  dunia nyata yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, sehingga memudahkan  pemahaman konsep dan kepemilikan kompetensi IPA.
  • Motivasi belajar peserta didik dapat diperbaiki dan ditingkatkan.
  • Pembelajaran  terpadu  membantu  menciptakan  struktur  kognitif  yang dapat  menjembatani  antara  pengetahuan  awal  peserta  didik  dengan pengalaman  belajar  yang  terkait,    sehingga  pemahaman  menjadi  lebih terorganisasi  dan  mendalam,  dan  memudahkan  memahami  hubungan materi IPA  dari satu konteks ke konteks lainnya.
  • Akan terjadi peningkatan kerja sama  antarguru bidang  kajian terkait, guru dengan peserta didik, peserta didik dengan peserta didik, peserta didik/guru  dengan  narasumber;  sehingga  belajar  lebih  menyenangkan, belajar dalam situasi nyata, dan dalam konteks yang lebih bermakna.

Kelebihan-kelebihan tersebutlah yang membuat IPA di SMP sekarang ini diajarkan secara terpadu.

Apa tujuannya IPA diajarkan secara Terpadu??

IPA SMP dulunya diajarkan secara terpisah-pisah kedalam fisika dan biologi. Mulai KTSP 2006 IPA SMP diajarkan secara terpadu, meskipun guru dilapangan belum siap, karena guru dilapangan adalah sarjana fisika dan biologi. Sedangkan kampus pendidikan belum mencetak sarjana IPA Terpadu yang menguasai bidang fisika dan biologi. Pembelajaran IPA Terpadu tetap digulirkan meski banyak ketidaksiapan dari pengajar dan sekolah, karena pembelajaran IPA Terpadu memiliki tujuan-tujuan yang baik, antara lain:

  • Meningkatkan efisiensi dan efektifitas pembelajaran

Dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang harus dicapai peserta didik masih dalam lingkup bidang kajian energi dan perubahannya, materi dan sifatnya,  dan  makhluk  hidup  dan  proses  kehidupan.  Banyak  ahli  yang menyatakan  pembelajaran  IPA    yang  disajikan  secara  disiplin  keilmuan
dianggap  terlalu  dini  bagi  anak  usia  7-14  tahun,  karena  anak  pada  usia ini  masih  dalam  transisi  dari  tingkat  berpikir  operasional  konkret  ke berpikir abstrak.  Selain  itu,  peserta  didik  melihat  dunia  sekitarnya  masih secara holistik. Atas dasar itu, pembelajaran IPA  hendaknya disajikan dalam bentuk yang  utuh  dan  tidak  parsial.  Di  samping  itu  pembelajaran  yang disajikan terpisah-pisah  dalam  energi  dan  perubahannya,  makhluk  hidup dan  proses kehidupan,  materi  dan  sifatnya,  dan  bumi-alam  semesta memungkinkan adanya tumpang tindih dan pengulangan, sehingga membutuhkan waktu dan energi yang lebih banyak, serta membosankan bagi peserta didik. Bila konsep yang tumpang tindih dan pengulangan dapat dipadukan, maka pembelajaran akan lebih efisien dan efektif.  Keterpaduan bidang  kajian  dapat  mendorong  guru  untuk  mengembangkan kreativitas tinggi  karena  adanya  tuntutan  untuk  memahami  keterkaitan antara   satu materi   dengan   materi   yang   lain.   Guru   dituntut   memiliki kecermatan, kemampuan  analitik,  dan  kemampuan  kategorik  agar  dapat memahami keterkaitan atau kesamaan materi maupun metodologi.

  • Meningkatkan minat dan motivasi.

Pembelajaran terpadu memberikan peluang bagi guru untuk mengembangkan situasi  pembelajaan  yang  utuh,  menyeluruh,  dinamis,  dan  bermakna  sesuai dengan harapan dan kemampuan guru, serta kebutuhan dan kesiapan peserta didik.  Dalam  hal  ini,  pembelajaran terpadu  memberikan  peluang  bagi pengembangan   ilmu   pengetahuan   yang   berkaitan   dengan   tema   yang disampaikan. Pembelajaran  IPA  Terpadu  dapat  mempermudah  dan  memotivasi  peserta didik untuk mengenal, menerima, menyerap, dan memahami keterkaitan atau hubungan  antara  konsep  pengetahuan  dan  nilai  atau  tindakan yang  termuat dalam tema tersebut.  Dengan model pembelajaran yang terpadu dan sesuai dengan kehidupan sehari-hari, peserta didik digiring untuk berpikir luas dan mendalam  untuk  menangkap  dan  memahami  hubungan  konseptual  yang disajikan  guru.  Selanjutnya  peserta  didik  akan  terbiasa  berpikir  terarah, teratur,  utuh,  menyeluruh,  sistimik,  dan  analitik.  Peserta  didik  akan  lebih
termotivasi  dalam  belajar  bila  mereka  merasa  bahwa  pembelajaran  itu bermakna  baginya,  dan  bila  mereka  berhasil  menerapkan  apa  yang  telah dipelajarinya.

  • Beberapa Kompetensi Dasar dapat dicapai sekaligus.

Model  pembelajaran  IPA    terpadu  dapat  menghemat  waktu,  tenaga,  dan sarana,  serta  biaya  karena  pembelajaran  beberapa  kompetensi  dasar dapat diajarkan    sekaligus.    Di    samping    itu,    pembelajaran    terpadu   juga menyederhanakan  langkah-langkah  pembelajaran.  Hal  ini  terjadi  karena adanya  proses  pemaduan  dan  penyatuan  sejumlah  standar kompetensi, kompetensi  dasar,  dan  langkah  pembelajaran  yang dipandang  memiliki kesamaan atau keterkaitan.