Modul sebagai Media Pembelajaran

Menurut Badan Penelitian dan Pengembangan Pendidikan dan Kebudayaan yang dikemukakan Suryobroto dalam Made Wena (2009:231) pengertian modul adalah satu unit program belajar mengajar terkecil, yang secara rinci menggariskan:

  1. Tujuan instruksional yang akan dicapai.
  2. Topik yang akan dijadikan pangkal proses belajar mengajar.
  3. Pokok-pokok yang akan dipelajari.
  4. Kedudukan dan fungsi modul dalam kesatuan program yang lebih luas.
  5. Peranan guru dalam proses belajar-mengajar.
  6. Alat dan sumber belajar yang dipergunakan.
  7. Kegiatan belajar yang harus dilakukan dan dihayati siswa secara berurutan.
  8. Lembaran kerja yang harus diisi oleh siswa.
  9. Program evaluasi yang akan dilaksanakan.

Modul sebagai sarana kegiatan belajar mengajar memiliki beberapa tujuan dalam penyusunannya. Secara lengkap tujuan penyusunan modul adalah sebagai berikut:

  1. Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbal.
  2. Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik peserta belajar maupun guru/ instruktur.
  3. Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi, seperti untuk meningkatkan motivasi dan gairah belajar; mengembangkan kemampuan dalam berin- teraksi langsung dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya yang memungkinkan peserta didik atau pebelajar belajar mandiri sesuai kemampuan dan minatnya.
  4. Memungkinkan peserta didik atau pebelajar dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri hasil belajarnya. (Depdiknas, 2008:5)

Modul yang dihasilkan agar mampu meningkatkan motivasi penggunanya, maka modul harus mencakup beberapa karakteristik tertentu. Karakteristik untuk pengembangan modul berdasarkan Depdiknas (2008:3) antara lain :

1.  Self Instructional, yaitu melalui modul tersebut seseorang atau peserta belajar mampu membelajarkan diri sendiri, tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter self instructional, maka dalam modul harus;

1)      berisi tujuan yang dirumuskan dengan jelas;

2)      berisi materi pembelajaran yang dikemas ke dalam unit-unit kecil/spesifik sehingga memudahkan belajar secara tuntas;

3)      menyediakan contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pema- paran materi pembelajaran;

4)      menampilkan soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang       memungkinkan pengguna memberikan respon dan mengukur tingkat penguasaannya;

5)      kontekstual yaitu materi-materi yang disajikan terkait dengan suasana atau konteks tugas dan lingkungan penggunanya;

6)      menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif;

7)      terdapat rangkuman materi pembelajaran;

8)      terdapat instrumen penilaian yang memungkinkan pengguna modul melakukan ‘self assessment’;

9)      terdapat instrumen yang dapat digunakan penggunanya mengukur atau mengevaluasi tingkat penguasaan materi;

10)  terdapat umpan balik atas penilaian, sehingga penggunanya mengetahui tingkat penguasaan materi; dan

11)  tersedia informasi tentang rujukan/pengayaan/referensi yang mendukung materi pembelajaran dimaksud.

2.   Self Contained, yaitu seluruh materi pembelajaran dari satu unit kompetensi atau sub kompetensi yang dipelajari terdapat di dalam satu modul secara utuh. Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan pembelajar mempelajari materi pembelajaran yang tuntas, karena materi dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh. Jika harus dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu unit kompetensi harus dilakukan dengan hati-hati dan memperhatikan keluasan kompetensi yang harus dikuasai.

3.  Stand Alone (berdiri sendiri), yaitu modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media pembelajaran lain. Dengan menggunakan modul, pebelajar tidak tergantung dan harus menggunakan media yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan tugas pada modul tersebut. Jika masih menggunakan dan bergantung pada media lain selain modul yang digunakan, maka media tersebut tidak dikategorikan sebagai media yang berdiri sendiri.

4.  Adaptive, modul hendaknya memiliki daya adaptif yang tinggi terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif jika modul dapat menyesuaikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel digunakan. Dengan memperhatikan percepatan perkembangan ilmu dan teknologi pengembangan modul multimedia hendaknya tetap “up to date”. Modul yang adaptif adalah jika isi materi pembelajaran dapat digunakan sampai dengan kurun waktu tertentu.

5.  User Friendly, modul hendaknya bersahabat dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam merespon, mengakses sesuai dengan keinginan. Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti serta menggunakan istilah yang umum digunakan merupakan salah satu bentuk user friendly.

Pengadaan modul dapat dilakukan sendiri oleh guru atau pengajar. Menurut Suryosubroto (1983) dalam Made Wena (2009:233-234), suatu modul digunakan di sekolah disusun dengan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

1.  Menyusun kerangka paket belajar

1)         Menetapkan/menggariskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai dengan mempelajari modul.

2)         Menyusun soal-soal penilaian untuk mengukur sejauh mana tujuan instruksional khusus bisa dicapai

3)         Mengidentifikasi pokok-pokok materi pelajaran yang sesuai dengan setiap tujuan instruksional khusus

4)         Mengatur dan menyusun pokok-pokok materi tersebut di dalam urutan yang logis dan fungsional

5)         Menyusun langkah-langkah kegiatan belajar peserta didik

6)         Memeriksa sejauh mana langkah-langkah kegiatan belajar yang telah diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

7)         Mengidentifikasi alat-alat yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan modul tersebut.

2.  Menyusun/menulis program secara terperinci meliputi pembuatan semua unsur dalam komponen modul, yaitu:

1)         Petunjuk penggunaan modul

Berisi petunjuk-penjuk penggunaan modul agar pembelajaran dapat diselenggarakan secara efisien, penjelasan tentang macam-macam kegiatan yang harus dilakukan di kelas, waktu yang disediakan untuk menyelesaikan modul, alat pelajaran, dan petunjuk penilaian.

2)         Lembar Kegiatan Peserta Didik

Lembar Kegiatan Peserta Didik berisi materi pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta didik dan kegiatan yang harus dilakukan peserta didik.

3)         Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD)

Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) ini digunakan untuk mengerjakan/menjawab soal, tugas, atau masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik.

4)         Lembar jawab/kunci

Komponen ini berfungsi untuk mengevaluasi sendiri pekerjaan peserta didik, sehingga akan terjadi umpan balik dengan cepat terhadap pekerjaannya.

5)         Lembar evaluasi/penilaian

Lembar evaluasi berfungsi sebagai alat koreksi sendiri terhadap penilaian yang dilakukan.

Modul pembelajaran yang dihasilkan agar mampu memerankan fungsi dan perannya dalam pembelajaran yang efektif, modul perlu dirancang dan dikembangkan dengan memperhatikan beberapa elemen seperti konsisten, format, organisasi, daya tarik, ukuran huruf, dan penggunaan spasi kosong. (Azhar Arsyad, 1997:87-90).

1. Konsistensi

1)      Gunakan bentuk dan huruf secara konsisten dari halaman ke halaman. Usahakan agar tidak menggabungkan beberapa cetakan dengan bentuk dan huruf yang terlalu bervariasai.

2)         Gunakan jarak spasi konsisten. Jarak antara judul dengan baris pertama, antara judul dengan teks utama. Jarak baris atau spasi yang tidak sama sering dianggap buruk, tidak rapi.

3)         Gunakan tata letak dan pengetikan yang konsisten, baik pola pengetikan maupun margin/batas-batas pengetikan.

2.  Format

1)      Gunakan format kolom (tunggal atau multi) yang proporsional. Penggunaan kolom tunggal atau multi harus sesuai dengan bentuk dan ukuran kertas yang digunakan. Jika menggunakan kolom multi, hendaknya jarak dan perbandingan antar kolom secara proporsional.

2)      Gunakan format kertas (vertikal/horisontal) yang tepat. Penggunaan format kertas secara vertikal atau horisontal harus memperhatikan tata letak dan format pengetikan.

3)      Gunakan tanda-tanda (icon) yang mudah ditangkap yang bertujuan untuk menekankan pada hal-hal yang dianggap penting atau khusus. Tanda dapat berupa gambar, cetak tebal, cetak miring atau lainnya.

3.  Organisasi

1)      Tampilan peta/bagian yang menggambarkan cakupan materi yang akan dibahas dalam modul.

2)      Organisasikan isi materi pembelajaran dengan urutan dan susunan yang sistematis, sehingga memudahkan peserta didik memahami pembelajaran.

3)      Susun dan tempatkan naskah, gambar, dan ilustarsi sedemikian rupa sehingga informasi mudah dimengerti oleh peserta didik.

4)      Organisasikan antar bab, antar unit, dan antar paragraf dengan susunan dan alur yang memudahkan peserta didik memahaminya.

5)      Organisasikan antara judul, sub judul, dan uraian yang mudah diikuti oleh peserta didik.

4.  Daya tarik

Daya tarik modul dapat ditempatkan di beberapa bagian seperti:

1)      Bagian sampul depan dengan mengkombinasikan warna, gambar/ilustrasi, bentuk dan ukuran huruf yang sesuai.

2)      Bagian isi modul dengan menempatkan rangsangan-rangsangan berupa gambar/ilustrasi, pencetakan huruf tebal, miring, garis bawah atau warna.

3)      Tugas dan latihan yang dikemas sedemikian rupa.

5.  Bentuk dan ukuran huruf

1)      Gunakan bentuk dan ukuran huruf yang mudah dibaca sesuai dengan karakteristik umum peserta didik.

2)      Gunakan perbandingan huruf yang proporsional antara judul, sub judul, dan isi naskah.

3)      Hindari penggunaan huruf kapital untuk seluruh teks, karena dapat membuat proses membaca menjadi sulit.

6.  Ruang/spasi kosong

Gunakan spasi atau ruang kosong tanpa naskah atau gambar untuk menambah kontras penampilan modul. Spasi kosong dapat berfungsi untuk menambahkan catatan penting dan memberikan kesempatan jeda kepada peserta didik. Gunakan dan tempatkan spasi kosong tersebut secara proporsional. Penempatan ruang kosong dapat dilakukan di beberapa tempat seperti ruangan sekitar judul bab dan subbab.

1)      Batas tepi (margin), yaitu batas tepi yang luas memaksa perhatian peserta didik untuk masuk ke tengah-tengah halaman.

2)   Spasi antar kolom, semakin lebar kolomnya, semakin luas spasi diantaranya.

3)   Pergantian antar paragraf dan dimulai dengan huruf kapital.

4)   Pergantian antar bab atau bagian.

Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa dalam modul terdapat beberapa komponen yaitu petunjuk penggunaan modul, kegiatan pembelajaran, lembar kegiatan peserta didik, lembar kerja peserta didik, dan evaluasi. Fungsi dan peran modul tersebut perlu didukung aturan dalam penyusunan modul yang harus diperhatikan.

Pengajaran dengan menggunakan media modul banyak memberikan keuntungan, baik bagi guru mapun bagi peserta didik. Menurut Santyasa (2009:9) keuntungan yang diperoleh peserta didik adalah:

  1. Meningkatkan motivasi siswa, karena setiap kali mengerjakan tugas pelajaran yang dibatasi dengan jelas dan sesuai dengan kemampuan.
  2. Setelah    dilakukan  evaluasi,  guru  dan  siswa  mengetahui  benar pada  modul  yang mana siswa telah berhasil dan pada bagian modul yang mana mereka belum berhasil.
  3. Siswa mencapai hasil sesuai dengan kemampuannya.
  4. Bahan pelajaran terbagi lebih merata dalam satu semester.
  5. Pendidikan  lebih  berdaya  guna,  karena  bahan  pelajaran  disusun  menurut  jenjang akademik.

Melalui pengajaran modul, peserta didik memiliki tujuan yang jelas, sehingga kegiatan belajarnya menjadi lebih terarah. Peserta didik juga diberi kesempatan untuk menguasai materi pelajaran secara tuntas dengan mengulangi kegiatan belajarnya apabila mengalami kegagalan. Keberhasilan yang dicapai, disamping memberikan kepuasan pada diri peserta didik juga memberikan kepuasan bagi guru. Evaluasi setelah selesai mengajar dengan modul, memberi kesempatan pada guru untuk menilai keberhasilannya, dan peserta didik segera dapat mengetahui tingkat penguasaannya.

Guru memiliki banyak kesempatan untuk mengadakan kegiatan pengayaan dan terbebas dari kegiatan rutin yang berat. Guru juga terbebas dari kegiatan persiapan bahan pelajaran, karena sudah tersusun dalam bentuk modul. Keterbukaan guru dalam menerima saran-saran peserta didik akan memberikan makna yang lebih besar dari guru. Guru dapat memahami bagaimana peserta didik belajar sehingga meningkatkan profesionalitasnya sebagai guru.

Modul dapat digunakan  sebagai sumber belajar dan belajar mandiri, jika sebelumnya sudah melalui penilaian dari para pakar materi, media dan tim pengembang. Menurut Widodo dan Jasmadi (2008:71) menyatakan bahwa bahan ajar yang telah dikembangkan perlu dilakukan beberapa evaluasi dari beberapa sisi, yaitu bentuk fisik atau teknik bahan ajar (misalnya kualitas hasil produksi bahan ajar, keterbacaan huruf, kesalahan cetak), isi bahan ajar dari sisi kualitas, teknik penulisan bahan ajar (konsistensi huruf, bentuk dan ukuran, format dan lainnya). Evaluasi dilakukan salah satunya dengan menyebarkan kuisioner.

Berdasarkan penjelasan diatas maka sebuah modul yang telah selesai disusun perlu diadakan penilaian untuk mengetahui kualitas dari modul tersebut. Penilaian modul ini bertujuan untuk mengetahui apakah modul tersebut dapat digunakan sebagai sumber belajar dan belajar mandiri oleh peserta didik.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s